Rabu, 19 Mei 2010

Marilah Berbisnis Dengan Allah

by Abah Zacky as-Samarani under jihad

Di dalam Al-Qur'an Allah telah menawarkan bisnis kepada kita dengan harga yang menggiurkan. Allah akan memberikan sorga apabila kita bersedia melakukan transasksi itu. Adakah keindahan yang mampu enandingi keindahan sorga? Adakah kenikmatan hidup yang sanggup melebihi sorga?

Harga yang mahal layak untuk menukar sesuautu yang berharga. Pantaskah kita menjual sepatu butut kita dengan harga satu milyar rupiah? Layakkah kita menjual rumah reot dengan harga satu trilyun rupiah? Jika yang ditawarkan oleh Allah adalah puncak segala kenikmatan dan keindahan, tentu Allah
meminta sesuatu yang paling berharga dalam hidup manusia, yaitu jiwa dan harta kita.

Tawaran seperti itu sesungguhya telah diterima oleh insan yang mengaku dirinya beriman. Benarkah? Ya, benar, sebagaimana firman Allah :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (at-Taubah : 111)

Ayat tersebut menggunakan kata kerja lampau (fi'l Madli). Maknanya Allah sudah melakukan transaksi dengan orang yang mengaku dirinya mukmin. Kalau kita mengaku sebagai mukmin, maka berarti sudah melakukan transaksi itu. Kita telah menjual diri kita dan harta kita kepada Allah swt.

Benarkah kita orang yang beriman? Benarkah kita seorang mukmin? Jika benar, maka tidak ada pilihan lain selain menyerahkan apa yang telah kita jual kepada yang telah membelinya.

Apabila pembeli telah menerima barang yang dijual maka dia berhak berbuat sesukanya dan menempatkannya sesukanya. Jika dia ingin, dia bisa meletakkannya di istana, bisa juga dia meletakkannya di penjara. Jika dia ingin, dia bisa memakaikan baju terindah kepadanya, bisa juga dia
menjadikannya telanjang kecuali kain yang menutupi auratnya. Jika dia ingin, dia bisa menjadikannya kaya, bisa juga dia menjadikannya papa. Jika dia ingin dia bisa memanjangkan umurnya, bisa juga dia menggantungnya pada tiang gantungan.

Apakah baik jika seorang yang telah menjual seekor kambing lalu ia marah kepada orang yang telah membelinya, di saat orang itu menyembelihnya. Pantaskah jika hatinya gundah karenanya?!

Marilah kita ingat kembali kisah tentang singa Allah dan singa Rasul-Nya, Hamzah bin 'Abdul Muthallib ra? Perutnya telah dirobek. Hatinya telah dikeluarkan. Dan ia pun dicincang. Demikian pula halnya dengan para sahabat Nabi saw yang menjadi syuhada' dalam perang Uhud.

Di dalam kitab-kitab sirah nabawi kita juga membaca kisah tentang apa yang menimpa Rasulullah saw saat perang Uhud?! Pipi dan wajah mulia beliau terluka. Sebiji gigi depan beliau pecah. Demikianlah beliau saw hidup dari satu cobaan kepada cobaan yang lainnya.

Ibnu al-Jauziy menggambarkan beratnya cobaan yang menghadang langkah kehidupan Rasulullah saw di dalam kitab Shaidul Khathir, "Bukankah Rasul saw pun perlu untuk mengucapkan, 'Siapa yang mau melindungiku? Siapa yang mau menolongku?' Bukankah sahabat-sahabat beliau banyak yang terbunuh, bukankah beliau dilecehkan oleh orang-orang yang baru masuk Islam, bukankah beliau pernah mengalami kelaparan, dan beliau tetap teguh, tetap bergeming? Beliau pernah merasakan beratnya kelaparan, sampai-sampai beliau mengambil batu dan mengikatnya di perut? Padahal Allah adalah pemilik pintu-pintu langit dan bumi?.. Bukankah sahabat-sahabat beliau terbunuh, wajah beliau terluka, gigi
depan beliau pecah, paman beliau dicincang, dan beliau tetap diam? Lalu beliau diberi rizki anak laki-laki, namun tak berselang lama anak kesayangan itu direnggut dari beliau? Lalu terhibur dengan Hasan dan Husen, tetapi segera diberitahu tentang apa yang akan menimpa keduanya. Beliau sangat menyayangi Aisyah ra, lalu diguncanglah kehidupannya dengan kabar tuduhan zina. Datang kepada beliau Jibril yang terpercaya, namun kaumnya mengatakan, tukang sihir yang pendusta. Lalu dijadikanlah beliau merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh dua orang, dan beliau tetap diamtenang. Jika dikabarkan
tentang keadaannya, beliau pun mengajarkan kesabaran. Lalu kematian datang, ruh beliau yang mulia terangkat, sementara jasad terbujur di atas kain usang dan sarung yang kasar keluarga beliau tidak memiliki minyak untuk menyalakan lampu walau untuk malam itu saja."

Itulah kehidupan para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia pilihan. Merekalah yang paling mulia di sisi Pencipta dan paling dicintai oleh-Nya. Meski begitu, nabi Ibrahim telah dilempar ke dalam api, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub berada dalam ujian bertahun-tahun yang membinasakan harta dan anak-anaknya, nabi Yunus terpenjara dalam perut ikan paus, nabi Yusuf diremehkan dan dijual dengan harga murah, lalu menetap di penjara beberapa tahun. Dengan semua ujian itu, mereka ridla terhadap takdir Allah, ridla terhadap-Nya.

Sebagian salaf ada yang berkata, "Dibelah tubuhku lebih aku sukai daripada aku katakan untuk sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah, 'Seandainya itu tidak terjadi.'"

Ada juga yang mengatakan, "Aku telah melakukan perbuatan dosa, aku tangisi dosa itu sejak 30 tahun yang lalu." Ia adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Seseorang bertanya, "Apa dosa itu?" ia menjawab, "Sekali aku mengucapkan untuk sesuatu yang telah terjadi, 'Seandainya itu tidak terjadi.'"

Apa yang Allah pilihkan bagi hamba-Nya yang beriman adalah pilihan yang terbaik, meski tampaknya sulit, berat, atau memerlukan pengorbanan harta, kedudukan, jabatan, keluarga, anak, atau bahkan lenyapnya dunia seisinya.

Marilah mengingat kembali kisah perang Badar. Marilah kita pikirkan baik-baik! Sebenarnya sebagian sahabat pada waktu itu lebih menyukai mendapatkan harta perniagaan, namun Allah memilihkan bagi mereka pilihan yang jauh lebih baik dan lebih utama daripada pilihan mereka.. Allah pilihkan bagi mereka pertempuran!

Perbedaan antara harta perniagaan dan pertempuran ini bagaikan perbedaan antara bumi dan langit. Apatah nilai harta perniagaan?! Makanan yang dikunyah lalu masuk ke jamban, pakaian yang akhirnya compang-comping dan dibuang, serta dunia yang hanya sesaat. Sedangkan pertempuran, di dalamnya
ada furqan yang bisa dijadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Di balik peperangan itu tersirat kehancuran syirik dan keruntuhannya, serta tingginya tauhid dan kejayaannya. Dan di dalam pertempuran itu tokoh-tokoh musyrik yang sebelumnya senantiasa menempatkan batu sandungan di jalan Islam bias ditumpas.

Benar lah Allah dalam firmanNya:

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir (al-Anfal : 7)

Kita lihat di dalam ayat tersebut, para shahabat pun sebenarnya mengingnkan untuk bias merampas harta perniagaan kaum quraisy, bukan berperang. Sebab dalam hitungan logika, peperangan saat itu belum berimbang. Dari segi jumlah personel, kaum muslimin kalah jauh dari orang musyrik Makkah. Dari segi persenjataan dan perbekalan, kaum Quraisy jauh dari orang muslim. Dalam semua hal, dalam perhitungan rasional, kaum musyrik unggul di atas kertas. Tetapi Allah memberikan pilihan yang jauh lebih baik di balik persitiwa yang tidak disukai. Allah memberikan kemenangan terhadap Islam, dan bagi para pelaku perang Badar, cukup kiranya hadis

"Sesungguhnya Allah telah mencermati para tentara perang Badar, lalau berfirman, 'Kerjakanlah yang kalian mau karena sungguh Aku telah mengampuni kalian.'" (Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)

Ampunan Allah sebuah kata indah, yang selalu kita mohon setiap saat. Mereka bisa mendapatkan ampunan itu dalam kerja beberapa hari saja. Padahal kita belum tentu bisa mendapatkannya dalam usaha bertahun-tahun, bahkan hingga akhir hayat kita. Alangkah indahnya.

Kalimat indah itu mereka dapatkan karena mereka bersifat amanah terhadap jual beli yang telah mereka lakukan dengan Allah. Para shahabat menyadari betul bahwa apapun yang dipilihkan oleh Allah untuknya harus dihadapi, sebab diri dan hartanya kini telah mereka jual kepada Allah. Sementara kita???

Mengakhiri perbincangan ini, mari kita merenungkan tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad, dengan penyesuaian redaksi, "Sesungguhnya jika Allah menahanmu dari mendapatkan sesuatu, itu bukanlah karena Dia bakhil, khawatir kehilangan perbendaharaan-Nya, atau menyembunyikan hakmu. Akan tetapi itu adalah karena Dia ingin kamu kembali kepada-Nya, Dia ingin memuliakanmu dengan tunduk-pasrah kepada-Nya, menjadikanmu kaya dengan faqir kepada-Nya, memaksamu untuk bersimpuh di hadapan-Nya, menjadikanmu dapat merasakan manisnya ketundukan dan kefakiran kepada-Nya setelah merasakan pahitnya terhalang dari sesuatu. Supaya kamu memakai perhiasan 'ubudiyyah, menempatkanmu di kedudukan yang tertinggi setelah kedudukanmu dicopot, supaya kamu dapat menyaksikan hikmah-Nya dalam qudrah-Nya, rahmat-Nya dalam keperkasaan-Nya, kebaikan dan kelembutan-Nya dalam paksaan-Nya, dan bahwa sebenarnya tidak memberinya adalah pemberian, pencopotan dari-Nya adalah penguasaan, hukuman dari-Nya adalah pengajaran, ujian dari-Nya adalah
pemberian dan kecintaan, dikuasakannya musuh-musuhmu atasmu adalah yang akan menggiringmu kepadaNya."

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

www.flexterkita.com

Add URL Yahoo

Priority Submission Priority Submissions
48 Hour Guaranteed Inclusion to all major search engines!

Paypal

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
a href=http://www.superlistexplode.com/?mid=kenshavei>

Yuwie

Ca$hle

AW Survey

Beutiful Life

Loading...